Pentingnya Matematika Diberbagai Bidang Pekerjaan

Oleh: Azmi Muhammad

Seperti dalam Bahasa latin Regina Scientiarum, yaitu “Ratunya Ilmu Pengetahuan” matematika membawa kita sampai pada masa modern sekarang ini. Banyak bidang yang terpengaruh perkembangannya karena matematika. Ilmu sains, ilmu keuangan, dan ilmu pengetahuan umum lainnya. Karena matematika digunakan sebagai dasar untuk banyak bidang, makan tidak heran jika semua pekerjaan yang kita lakukan saat ini merupakan hasil dari peluasan ilmu matematika tersebut.

Tidak dapat dipungkiri jika matematika adalah satu-satunya materi yang bisa menjadi dasar untuk hampir semua bidang pekerjaan. di dalam bidang farmasi contohnya, matematika digunakan sebagai alat untuk mengukur seberapa dosis yang harus digunakan. Perhitungan yang digunakan dalam matematika farmasi tentunya berbeda dengan matematika yang digunakan dalam bidang Teknik. Dalam bidang teknik matematika berfungsi penting dalam membantu membuat kontruksi, survey, merancang dan lainnya.

Secara tidak sadar matematika ada dalam setiap hal yang kita jumpai sehari-hari. Tahukah kamu jika pada masa sebelum masehi para nenek moyang menggunakan matematika aritmatika untuk mengetahui bulan, tahun, rasi bintang, bahkan hingga akhirnya bisa menghasilkan kalender seperti yang sudah ada saat ini? Matematika terlihat angker namun dia selalu menyertai kita dalam banyak hal.
Di dunia medis pun matematika sangat berpengaruh dalam pembuatan perancangan mesin-mesin modern. Dalam bidang sosial pun matematika sangat dibutuhkan untuk menghitung laba rugi serta jumlah statistik suatu laporan. banyak yang merasa matematika merupakan ilmu yang sangat sulit dipahami dan diterapkan. Namun dengan mengetahui bahwa matematika merupakan dasar dari banya bidang dan secara tidak sadar kita menggunakannya selalu dalam kehidupan sehari-hari maka matematika sangat perlu untuk dipelajari dan dipahami penggunaannya agar dapat bermanfaat sesuai dengan bidang yang dituju.

Matematika dalam keseharianpun membantu kita dalam banyak hal-hal sederhana yang tanpa kita sadari manfaatnya. Ketika ilmu pengetahuan semakin berkembang dan dibutuhkan cara berpikir yang logi, maka peran matematika semakin vital. Dengan sifatnya yang dinamis, matematika semakin berkembang menjadi alat yang tepat untuk pemecahan masalah dalam ilmu pengetahuan.

Selain logika, matematika memiliki unsur-unsur lain yang memegang peranan penting dalam membangun konsep, yaitu kejujuran, keterbukaan, konsistensi, ketelitian dan keselarasan. Melalui proses pendidikan dan pembinaan yang baik, keempat unsur diatas dapat terbentuk sempurna. Itula mengapa sejak dalam masa sekolah dasar kita sudah dikenalkan dan selalu dituntut untuk mempelajari matematika. Karena menggunakan pemodelan matematika, berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari dapat dipelajari dan diselesaikan.

Mengingat semua bidang pekerjaan tak dapat terlepas dari matematika, maka ada baiknya jika kita tidak menganggap remeh matematika. Dalam bidang arsitektur misalnya, seorang arsitek harus mampu mengetahui jumlah material yang dibutuhkan, misalkan semen, pasir batako di setiap meter bangunan. Dalam hal ini, matematika berfungsi untuk menghitung bahan-bahan yang dibutuhkan agar tidak banyak material yang tersisa percuma dan untuk membuat perhitungan agar bangunan tersebut bisa berdiri kokoh.

Begitupun dalam bidang pertania, matematika memegang peranan penting agar hasil yang dihasikan dari sebuah lahan bisa maksimal. perbandingan antara pupuk yang digunakan dan luas lahan pun penting untuk menghasilkan tanaman yang unggul. Ini semua membuktikan bahwa matematika perlu dipahami oleh hampir semua lapisan masyarakat karna saling memiliki keterkaitan antara bidang yang satu dengan lainnya.

Bayangkan saja jika tidak ada matematika, maka perkembangan jaman tidak akan secepat saat ini. Ilmu ekonomi dan penjualan tidak bisa tumbuh tanpa adanya aljabar, geometri, ekonometri, dan statistika. Riset-riset tentang suatu permasalahan tidak akan bisa berjalan dan tidak dapat menemukan solusinya dengan tepat. Sebuah wabah dapat ditemukan obat dan penyebabnya selain karena dari bidang medis, matematika pun ikut berperan penting.

Pun dengan alat-alat canggih yang saat ini kita gunakan. Berbagai aplikasi dan program computer tidak lepas dari penerapan aplikasi matematika, diantaranya aljabar, boolean, teori graf, matematika diskrit, logika simbolik, peluang dan statistika.

Ingat tidak ketika bersekolah kita akan dianggap murid yang cerdas jika nilai matematika kita bagus? Tapi mungkin kita tidak tahu alasannya mengapa dianggap demikian. Mungkin asumsi kita karena matematika adalah pelajaran yang sulit sehingga jika kita bisa mendapatkan nilai bagus kita dapat menyelesaikan sesuatu yang sulit. Namun memang ada alasan yang lebih rasional dibandingkan asumsi sederhana kita. Dengan suka atau mahir dalam pelajaran matematika, kita lebih mudah menguasai berbagai pelajaran lainnya, terutama pelajaran yang banyak elemen matematika seperti fisika dan kimia. Proses berpikir terlatih karena belajar matematika membantu kita dalam memahami pelajaran lain. Implikasinya adalah ada kecenderungan untuk mendapatkan nilai lebih tinggi daripada yang lain, sehingga -sesuai paradigma yang ada di masyarakat secara umum tentang nilai sekolah, dianggap pintar.

Itu dia, matematika adalah proses berpikir, bukan proses berhitung. Hampir setiap mendengar kata matematika, yang ada di pikiran orang adalah “angka” dan “rumus”. Padahal belajar matematika adalah belajar untuk berpikir logis dan sistematis. Belajar matematika membiasakan diri untuk menyelesaikan masalah dengan membuat pertanyaan yang tepat, melihat fakta yang tersedia, membedakannya dengan asumsi, hingga menyelesaikan masalah tersebut dengan solusi yang kreatif juga sistematis. Membiasakan diri dalam berpikir matematis berarti membiasakan diri untuk mengkritisi data yang diberikan politisi, atau membayangkan bahwa jika ada 70 juta orang dalam suatu demo berarti itu adalah ~1000x kapasitas Stadion GBK.

Matematika adalah proses berpikir, bukan proses berhitung.

Saya pernah baca satu cerita di buku “How Not to be Wrong: The Power of Mathematical Thinking”, tentang bagaimana Abraham Wald, seorang matematikawan AS di perang dunia II, menyelesaikan masalah “di bagian mana armor pesawat tempur harus diperkuat”, dengan kumpulan data lubang peluru di berbagai badan dari banyak pesawat yang kembali dari perang. Ketika banyak orang meminta model matematis untuk mengoptimalkan tambahan armor dan berat pesawat, Abraham Wald datang dengan pernyataan: “Pesawat yang pulang ke sini tidak mempunyai lubang bekas peluru di bagian mesin. Mereka bukanlah representasi penuh dari semua pesawat yang ada. Ini adalah tanda bahwa pesawat-pesawat yang terkena peluru di bagian mesin adalah pesawat-pesawat yang jatuh dan tidak kembali.” Abraham Wald tidak langsung berusaha membuat model matematis sesuai yang diminta. Hal yang pertama dilakukannya adalah melihat fakta dan menguak asumsi bahwa semua pesawat yang kembali adalah random sampel dari seluruh pesawat yang ada, padahal nyatanya tidak. Begitulah pola pikir orang yang terbiasa dengan matematika.