Kesaksian Pancasila

Oleh:  Andi Chaeridwan (2014100046)

Beberapa bulan kita menghadapi masa-masa sulit berjuang melawan virus yang tak kunjung memberikan nafas untuk rehat. Beberapa kalangan harus kebut kebutan berjuang dan berhadapan langsung dengan si “pembuat kacau” ini, berjibaku siang malam bertaruh dengan keadaan berharap harapan yang di harap-harap akan cepat terkabul. Namun semua keadaan ini dipersulit oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab mulai dari membuat pelanggaran yang tidak mentaati ketentuan sosial sampai mencari keuntungan di sela sela masa pancaroba.

Ternyata jika di hitung-hitung kita sudah beberapa bulan berhadapan dan berperang melawan kenyataan yang seolah tertutupi dengan sebuah kebeneran, bukan hanya menyerang sistem kekebalan tubuh namun membawa pula pada pahitnya kenyataan yang harus di hadapi. Hari ini yang berhadapan dengan situasi yang serba serbi rumit di mulai  dari kesaksian karyawan yang di usir paksa dari tempat kerjanya, tak bisa pulang kampung, tapi harus tetep makan sampai tak punya uang untuk bayar kontrakan, ada pula kisah pedagang cilok yang biasa bertengger di sekolah harus mengayuh gerobaknya lebih jauh sampai pedal tak bisa di kayuh, ditambah bisikan tukang sayur yang hanya bisa memperhatikan dagangan nya yang mulai layu , adapula jeritan para pedagang di “pasar kaget” yang ternyata juga di kagetkan karena tak bisa berjualan karena aturan yang di buat si pemangku kebijakan.

Sebenaranya luhur nilai pancasila “di jajal” oleh keadaan yang kian lama kian melunturkan nilainya, karena dengan berani kita mengatakan “luhurnya cita-cita dan budi Pancasila” sedangkan di masa seperti ini nilai dan budi itu untuk siapa sebenarnya? ditambah sebulan kemarin keadaan yang kian semrawut harus bergandengan langsung dengan bulan yang penuh berkah. Berkah untuk “seluruh alam semesta” itu pasti adanya  Tapi ujian untuk umat manusia pun tak akan serta merta hilang juga, sedikit berpendapat ada berkah tiada tara diucapkan ketika bisa berbuka puasa dengan menu serba serbi ada, bisa icap icip makanan karena masih cukup dan berpanghasilan, tapi di sisi lain masih ada lirih yang terdengar karena hanya air putih yang mengucur ke dalam tenggorokan atau anak kecil yang iri karena si teman bisa beli petasan sedang dia untuk makan pun harus beririsan dengan pahitnya kenyataan. Jangan sampai di ujung yang seharusnya kita menyambut “kemenangan” malah melihat kenyataan makin banyak gelandangan atau makin banyak penerima zakat fitrah karena tak bisa makan.

Dengan keadaan seperti itu apakan kita melihat tingginya Budi Pancasila jangan jadikan “ teguran” ini menjadi “sunatan masal” karena seharusnya “siapa yang harus berbuat?” siapa yang harus bertanggung jawab?, siapa yang harusnya menyelesaikan?. Jangan sampai menjadi sia sia ketika anak harus di pisahkan dari orang tuanya, orang tua di pisahkan dari anaknya, tempat ibadah di pisahkan dari jamaahnya, guru di jauhkan dari muridnya, tangan di jauhkan dari jabatnya, seolah Pancasila di jauhkan dari cita cita nya yang luhur di bisahkan dengan budi yang terkandung di dalamnya, pertanyaanya bukan menumbuhkan nilai luhur pancasila karena itu sudah termaktub dalam butir butir pancasila, melainkan mengembalikan ghiroh Pancasila yang sesunggguhnya.

Karena jujur saja Pancasila sudah di cundangi dan khianati oleh oknum yang memiliki otoritas yang tak pernah menjalankan nilai luhur Pancasila, yang tak mau mendengar jerit kaum buruh yang harus tetep bertahan di kampung orang tanpa bisa bayar kontrakan, lirih tukang cilok yang harus berjalan lebih jauh dari biasanya, atau sendunya tukang sayur karena melihat daganganya yang mulai layu. Pancasila adalah bait bait mahakarya yang indah tak cuma untuk di baca tapi juga untuk di bedah, tak sekedar di bedah tapi harus di perindah jalanya. Jangan sampai luntur karena sebuah kebijakan yang tidak bijak tangan boleh saja di jauhkan dari jabatnya tapi jangan pancasila di jauhkan dari luhur nilainya tinggi budinya, tertanda KESAKSIAN PANCASILA.

Leave a Reply

Your email address will not be published.